Jenis Berita Feature News (UTS)

 Ide Usaha Bisnis Yoghurt Mouwmilk dari Olahan Fermentasi Susu Sapi Segar Sebagai Bahan Produksi


Kunjungan di kediaman Ibu Hartati dengan bentuk rumah sederhana yang dijadikan sebagai tempat produksi susu segar. Sudah berjalan selama sembilan tahun lamanya beliau mampu menciptakan inovasi dalam mengolah susu sebagai bahan produksinya, salah satunya ialah yoghurt. Selain yoghurt produk lainnya yang dihasilkan meliputi stik susu, susu murni, dan permen susu.

Pagi sekitar pukul 09.00 WIB, saya mengunjungi sebuah rumah tempat tinggal Ibu Hartati yang akrab dipanggil Bu Har. Di tengah kunjungan saya bertemu Bu Har sedang asyik dan sibuk menyiram tanaman di halaman depan rumahnya. Bu Har ini sekarang menggeluti usaha bisnis berbagai macam olahan dari susu sapi. Salah satu olahannya ialah yoghurt dengan penjualan yang paling laris. Yoghurt merupakan olahan fermentasi dari susu sapi segar dengan berbagai variasi rasa yang di bungkus dengan plastik menyerupai es lilin pada umumnya. “Bahan dasar yogurt memang cukup sederhana dan pembuatannya juga mudah”. ucap Bu Har.

Bu Har mulanya berprofesi sebagai guru. Namun karena memiliki dua pekerjaan sekaligus membuatnya tidak fokus, apalagi lokasi penempatan profesinya sebagai guru memiliki jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Pada akhirnya Bu Har lebih memilih untuk menjalankan bisnisnya. “Saya lebih tertantang untuk menekuni bisnis susu ini, karena kalau jadi guru itu serba tepat waktu dan seharian mengajar di sekolah, belum lagi ada sisa tugas yang belum selesai harus dikerjakan di rumah, singkatnya membutuhkan waktu yang lama”. lanjut Bu Har saat kita menuju ke tempat pengolahan susu segar yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya.

 Pada awalnya usaha ini merupakan peternakan sapi yang berada di bawah naungan kelompok usaha yaitu “Tani Mukti”. Anggota kelompok tani tersebut memiliki kegiatan masing-masing seperti mendirikan usaha dengan tetap memelihara sapi perah. Salah satunya Bu Har pemilik usaha “Mouwmilk”. Dengan berbagai rintangan dan risiko yang besar karena belum berpengalaman dalam bidang peternakan Bu Har tetap optimis menjalankan bisnisnya. “2 tahun sebelumnya memang ada 20 ekor sapi tapi pada akhirnya berkurang sedikit demi sedikit karena banyak yang mati dan kurang menghasilkan susu”. ujar Bu Har.

Kenyataan yang ada tidak sesuai dengan persepsi awal saat membentuk usaha susu ini. Banyak kendala yang dialami Bu Har, contohnya sapi perah harus diberi makan sesuai standar seperti konsentrat, ubi, rumput, dan sebagainya untuk meningkatkan kuatitas hasil susunya. Hal itulah yang membuat biaya pakan ternak cukup menguras belum lagi biaya operasional bahan-bahan lainnya serta penggunaan alat teknologi tinggi. Pada tahun 2011 Bu Har memutuskan sekolah lagi untuk mendalami ilmu di bidang peternakan, bagaimana budidaya yang baik dan sebagainya. Tetapi itu pun tidak memberi solusi, usaha tersebut tetap berjalan dengan sedikit peningkatan tapi tidak signifikan. “Saya sudah melakukan beragam cara untuk menyelamatkan bisnis perah susu ini, namun tetap tidak bisa”. ujar Bu Har. Pada akhirya Bu Har menyerah dengan bisnis peternakan sapi perah ini.

 Pemiliki berusaha keras untuk mencari solusi bagaimana bisnisnya tetap bertahan dengan memanfaatkan sapi perah yang ada sebelum mengalami kebangkrutan. Awalnya susu hanya di jual kepada pengepul usai di perah sebelum di olah. Pada tahun 2012 Bu Har memutuskan untuk mengolah hasil susu perahnya menjadi beragam olahan agar lebih bermanfaat. Muncul lah susu pasteurisasi dengan nama “Mouwmilk”. Setelah menemukan ide untuk mengembangkan susu pasteurisasi Bu Har hanya membuka satu kedai saja, namun berkat kerja kerasnya dengan mengikuti pelatihan dan bimbingan dari dinas akhirnya berkembang menjadi beberapa kedai. Produk pertama yang dihasilkan ialah yoghurt. Yogurt adalah susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri. Fermentasi gula susu (laktosa) menghasilkan asam laknat yang berperan dalam protein susu untuk menghasilkan tekstur seperti gel dan aroma unik pada yoghurt. Yoghurt buatan Bu har tersedia dalam beraneka macam rasa, yaitu rasa alami, ekstrak buah, dan vanila.

“Awalnya saya ragu untuk melanjutkan bisnis sapi perah ini, namun saya tetap berusaha untuk melakukan apa saja demi menyelamatkan bisnis ini. Pada akhirnya saya mendapatkan ide, bagaimana kalo hasil susu perahnya kita olah sendiri saja tanpa harus menyetor ke pengepul”. ucap Bu Har.

             Setelah sukses dengan produksi yoghurt tersebut, Bu Har memutuskan untuk mengembangkan lagi produk olahan susu menjadi beragam produk, seperti permen susu dan stik susu. Tidak tanggung-tanggung omset yang di dapat Bu Har selama memproduksi olahan susu menjadi yoghurt mendapat keuntungan Rp 3.000.000,- dengan harga tiap kemasan Rp 3.000,-, belum lagi dengan olahan susu lainnya. “Alhamdulillah berkat usaha yang saya tekuni akhirnya bisnis yang berawal hanya susu perah dapat mengolah hasil susunya sendiri menjadi berbagai macam produk”. lanjut Bu Har. Seiring berjalannya waktu dari tahun 2015 hingga sekarang perizinan dari beragam pihak untuk mendirikan usaha olahan susu ini sudah didapatkan, misalnya BPOM dan sertifikat MUI.

Komentar