Jenis Berita Feature News
Semangat Motivasi Belajar Seorang Mahasiswa Penyandang
Disabilitas Tuli (Tunarungu) Sebagai
Calon Pendidik Masa Depan
Salah satu mahasiswa
Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan latar belakang jurusan pendidikan memiliki
riwayat gangguan pada pendengaran. “Pada tahun 1997, sejak kecil (balita), saya
mengalami kehilangan pendengaran di telinga kiri akibat jatuh, sehingga
menyebabkan saraf telinga sudah tidak berfungsi dan masuk ke tingkat sangat
berat” ujar Dewi
(26). Dengan demikian bukan berarti ia menyerah dengan kondisi yang seperti
itu. Melainkan ia menjadi sosok yang kuat dan sanggup menjalani kehidupan yang
mendatang.
“Alhamdulillah di telinga
kanan masih bisa mendengar suara dengan baik walau pendengaran sudah berkurang
dan masih dibantu dengan menggunakan alat bantu dengar di kedua telinga.
Menggunakan alat bantu dengar sudah sejak kelas 1 SD tahun 2003, jadi terhitung
sudah 18 tahun lamanya”, tuturnya. Pada
awalnya memang dia tidak bisa menerima bahwa mengalami hilangnya pendengaran
sebab banyak masalah yang menghampiri seperti dipandang sebelah mata oleh orang
lain, dan tidak ada yang ingin membantunya. Hal itulah yang membuat dirinya
melakukan berbagai hal tanpa bantuan dari siapa pun walaupun terkadang
mengalami kesulitan.
Menjadi orang yang
memiliki gangguan pada pendengaran tidaklah mudah, banyak beban berat yang
dirasakan. Terkadang dalam berkomunikasi dengan orang lain mengalami kesulitan,
apalagi saat pandemi seperti saat ini. Kurangnya menangkap kata-kata dari
pembicara karena terhalang oleh masker menjadi hambatan yang begitu sulit untuk
diatasi. Selain itu,
kendala yang lain juga pernah dialami oleh Dewi pada saat sekolah dasar yaitu
pembullyan. “Saya
mengalami pembullyan karena saya berbeda dengan teman-teman normal, dan juga
saat kegiatan pelajaran di kelas, guru tidak begitu banyak memberikan
perhatian, membantu serta mengabaikan saya. Guru lebih memilih fokus pada teman
lain yang bisa mengikuti dengan baik dan lebih tanggap kepada guru. Selama 4
tahun di SD X, kemudian pindah ke SD lain karena saya tidak cocok dengan
sekolah tersebut”, katanya.
Selama satu tahun setelah
lulus sekolah dasar dia tidak melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama
karena mengalami trauma akibat pembullyan. Tahun 2010 akhirnya Dewi melanjutkan sekolahnya setelah mendapat
kabar bahwa salah satu pendidikan
sekolah non-formal yaitu Homeschooling Kak Seto telah hadir di Kota Solo. “Saya merasa
tenang dan nyaman bersekolah di Homeschooling karena sekolah lebih
menyenangkan, teman-teman dan tutor-tutor ramah semua dengan saya. Saya
bersekolah di Homeschooling Kak Seto Solo selama 6 tahun, sejak 2010 hingga lulus
SMA di tahun 2016”.
Selepas lulus SMA, Dewi berencana untuk kuliah di perguruan
tinggi negeri yakni UGM dan UNS dengan jurusan Sastra Indonesia dan Manajemen
Bisnis melalui SBMPTN 2016. Harapan
Dewi untuk kuliah di
kedua universitas tersebut terpaksa diurungkan karena hasil tes menyatakan
bahwa dia tidak lolos. Sebagai gantinya dia memilih masuk perguruan tinggi swasta dengan
jurusan bidang kesenian agar tetap melanjutkan keinginannya untuk berkuliah.
Menurut dia,
kuliah di bidang kesenian merupakan hal yang bukan menjadi suatu rencana dan
pilihan saat SMA, sehingga waktu berjalannya perkuliahan merasa salah jurusan.
Namun setelah mengikuti
perkuliahan selama dua semester jurusan seni di salah satu perguruan tinggi swasta,
ia merasa tidak mampu untuk melanjutkannya. Dia tidak putus asa untuk berhenti
setengah jalan dalam mengikuti perkuliahan. Tak lama ia mendaftarkan diri di
UMS dengan mengambil jurusan bidang Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, yaitu prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia. Menurutnya “Saya mengambil jurusan bidang bahasa Indonesia karena
saya jatuh cinta dengan bahasa Indonesia sejak kelas 9 SMP karena dulu salah satu guru saya yang sempat
menyindir halus kepada saya karena mendapat nilai jelek, pada akhirnya mencoba
bangkit dari kegagalan dan mempelajari materi mata pelajaran bahasa Indonesia
sendiri, lama kelamaan jadi suka dengan bahasa Indonesia dan mendapatkan nilai
sempurna”.
Sebelumnya ada kisah di
balik Dewi
mengambil jurusan di bidang keguruan yaitu adanya keraguan dan berbagai
pertanyaan yang terlontar dari mulut teman-teman Dewi apakah nantinya ia bisa mengajar murid
dengan baik layaknya seorang guru pada umumnya dalam keadaan memiliki
keterbatasan pendengaran. Namun hal semacam itu ia abaikan dan dengan rasa
percaya diri serta yakin bahwa ia bisa mengajar dan menjadi guru yang baik
dengan kemampuan yang dimilikinya.
“Alhamdulillah, diterima
di prodi PBSI tahun 2017 dan pindah
kampus
ke PBSI FKIP UMS. Sampai detik ini saya bisa mengikuti perkuliahan dengan baik
dan cukup lancar sejak 2017 hingga sekarang. Saya merasa nyaman di prodi PBSI
dan menikmati perkuliahan ini, apalagi tantangan praktik mengajar murid bagi saya sungguh menyenangkan dan
sangat berkesan untuk saya”, ujarnya. Dewi
dengan penuh keyakinan bahwa suatu hari nanti kelak dia akan membuktikan bahwa
orang penyandang disabilitas rungu/tuli bisa menjadi guru.
Sebagai penutup dalam
sesi wawancara dia berkata bahwa motivasi atau dorongan yang menjadikan dia
bertahan sampai saat ini ialah QS. Al-Insyirah: 5-6 “Karena sesungguhnya
kesulitan pasti ada kemudahan”. "Ketika keterbatasan pendengaran menjadi
sebuah kelebihan" kata bijak oleh Angkie Yudistia. Kalimat itu yang
membuat saya menjadi lebih percaya diri dan yakin pasti bisa. Kedua, saya percaya
dengan Allah SWT.
Allah pasti memberikan kejutan yang indah untukku apa yang terbaik untuk saya.
Komentar
Posting Komentar