Elemen Jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

 

KETERKAITAN SEMBILAN ELEMEN JURNALISME

BILL KOVACH DAN TOM ROSENSTIEL

DENGAN KODE ETIK JURNALISTIK


https://i0.wp.com/rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2017/01/10-Elemen-Jurnalisme2.jpg?resize=600%2C349&ssl=1

Nama Bill Kovach dan Tom Rosenstiel tidak asing di telinga para jurnalis. Pasalnya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merupakan penulis buku The Elements of Journalism yang menjadi buku pegangan atau buku pedoman bagi para jurnalis.

Terciptanya buku ini ialah hasil dari penelitian atau riset Committee of Concerned Journalist untuk mencari prinsip jurnalisme menurut pandangan masyarakat. Akhirnya setelah sekian lama penelitian dilakukan terciptalah buku The Elements of Journalism dimana salah satu isinya yang paling terkenal adalah sembilan elemen jurnalisme yang menjadi prinsip dasar jurnalis di seluruh dunia.

Selain elemen jurnalisme yang digunakan sebagai dasar jurnalis, ada juga kode etik yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis. Kode etik ini digunakan untuk tujuan agar seorang jurnalis atau wartawan melakukan tugasnya sesuai dengan aturan dan tidak menyalahgunakan wewenangnya sebagai jurnalis atau wartawan. Berikut kode etik dalam jurnalistik antara lain:

1.      Wartawan harus bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat dan berimbang, serta tidak beritikad buruk.

2.      Wartawan harus menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

3.      Wartawan harus selalu menguji informasi, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

4.      Wartawan tidak pernah membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul.

5.      Wartawan tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

6.      Wartawan tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

7.      Wartawan memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitasnya maupun keberadannya, menghargai ketentuan embargo (penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai permintaan narasumber), informasi latar belakang (segala informasi atau data yang disiarkan tanpa menyebutkan narasumber), dan off the record (segala informasi data dari narasumber tidak boleh dipublikasikan oleh si narasumber tersebut) sesuai dengan kesepakatan.

8.      Wartawan tidak menulis berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar SARA serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

9.      Wartawan harus menghomati hak narasumber terkait kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

10.  Wartawan segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai permintaan maaf kepada pembaca, pendengar atau pihak terkait.

11.  Wartawan harus melayani hak jawab dan hak koreksi secara profesional.

Kode etik tersebut yang menjadi pedoman agar seorang wartawan atau jurnalis melaksanakan tugasnya secara terarah dan profesional. Jadi seorang jurnalis ini merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah. Karena untuk menghasilkan berita yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan seorang jurnalis perlu berpedoman pada elemen jurnalistik maupun kode etik jurnalis. Berikut keterkaitan antara elemen jurnalis ddengan kode etik jurnalistik, antara lain:

1.      Kewajiban pertama junalisme adalah kebenaran

Seorang jurnalis tentunua memiliki kewajiban yang utama yaitu kebenaran. Sesuai dengan kode etik jurnalistik bahwa wartawan atau jurnalis harus bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat dan berimbang, serta tidak beritikad buruk serta tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis maupun cabul. Seorang jurnalis juga tentunya dalam menyajikan berita harus sesuai dengan fakta-fakta yang ada.

2.      Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat

Sifat dari jurnalis ialah netral, tidak berpihak kepada siapapun baik pengusa maupun pemilik media. Karena pada dasarnya seorang jurnalis dipercaya oleh masyrakat sebagai media yang dikonsumsi untuk publik. Tidak semata-mata untuk kepentingan iklan ataupun yang lainnya. Hal ini sesuai dengan kode etik jurnalistik bahwa wartawan atau jurnalis tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

3.      Inti jurnalisme adalah disiplin dalam melakukan verifikasi

Verifikasi ini dilakukan dengan tujuan bahwa wartawan atau jurnalis tidak bertaut pada satu kasus saja melainkan dalam mengerjakan suatu kasus harus dapat dilihat dari berbagai macam sudut pandang, sehingga berita yang dihasilkan objektif. Metode verifikasi ini biasanya dapat digunakan dengan cara mewawancarai narasumber terkait peristiwa atau kasus yang sedang terjadi. Hal ini sesuai dengan kode etik jurnalistik bahwa wartawan memiliki hak untuk mewawancarai narasumber tetapi narasumber juga memiliki hak untuk tidak mempublikasikan identitasnya.

4.      Jurnalis harus menjaga independensi dari sumber yang diliput

Independensi ini berbeda dengan sifat netral, misalnya dalam menulis berita seorang jurnalis harus berdasarkan pemikirannya dalam artian tidak memihak kepada siapapun. Hal ini bertujuan agar seorang jurnalis dalam mengerjakan suatu kasus menggunakan pemikiran ‘kepala dingin’. Sesuai dengan kode etik jurnalistik bahwa wartawan  atau jurnalis harus bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat dan berimbang, serta tidak beritikad buruk.

5.      Menjalankan kewajiban sebagai pengawas yang independen terhadap kekuasaan

Adanya jarak antara orang dengan penguasa atau pemerintah maka peran jurnalis disini sangat diperlukan sbagai ‘penyambung lidah masyarakat’ yaitu untuk menyampaikan pesan kepada satu pihak dengan yang lainnya dan tetap berpegang teguh pada prinsip jurnalisme. Hal ini sesuai dengan kode etik jurnalistik bahwa artawan tidak menulis berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar SARA serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

6.      Menyediakan forum bagi masyarakat untuk saling kritik dan berkompromi

Berita yang disajikan berdasarkan fakta oleh jurnalis di media sebaiknya meninggalkan ruang untuk masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat memberi opini secara kritis dan berdiskusi, sehingga pada saat menghadapi suatu permasalahan yang ada masyarakat mampu menghadapi dengan pikiran yang kritis. Dalam hal ini wartawan harus selalu menguji informasi, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Agar dalam beropini masyarakat tidak semena-mena dalam beropini.

7.      Berjuang untuk membuat hal yang penting menjadi menarik dan relevan

Seorang jurnalis juga harus memikirkan bagaimana berita yang disajikan menarik perhatian pembaca atau pendengar namun tetap relevan. Contohnya jurnalis koran dalam menyajikan berita harus pintar dalam mengolah kata dan kalimat agar pembaca tertarik, jurnalis stasiun televisi juga harus pintar dalam menyusun naskahnya, serta jurnalis radio juga harus pintar dalam membacakan berita agar pendengar tertarik dan tidak bosan. Sehingga jurnalis memiliki sikap segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai permintaan maaf kepada pembaca, pendengar atau pihak terkait apabila terjadi kesalahan. Untuk menghindari kesalahan yang tidak diinginkan maka apapun yang disajikan oleh jurnalis harus relevan.

8.      Membuat berita tetap komprehensif dan proporsional

Seorang jurnalis yang profesional akan menyajikan berita yang komprehensif dan proporsional yang sesuai fakta tanpa ada tambahan apapun yang tidak ada kaitannya dengan fakta tersebut. Maka seorang jurnalis harus memiliki kode etik jurnalistik bahwa wartawan harus menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik serta menghasilkan berita sesuai dengan fakta yang ada.

9.      Tetap berkewajiban untuk mendengarkan hati nurani

Setiap lembaga jurnalis tentunya memiliki jurnalis junior dan jurnalis senior. Keduanya harus memiliki sikap kompas moral (compass moral) yaitu etika dan tanggung jawab. Jangan takut untuk menyuarakan pendapat yang berbeda dengan rekan kerja maupun dengan atasan. Tapi perbedaan pendapat tentu saja harus didasari oleh data-data yang akurat agar tidak asal ‘ceplas-ceplos’. Para pimpinan pun harus bersikap terbuka dan siap mendengarkan suara dari para jurnalis yang terjun langsung kelapangan agar mereka tetap merasa dihargai. Jadi para jurnalis tidak menyalahgunakan profesinya juga tidak menurunkan martabat jurnalis yang masih junior. 

Sumber: https://liputan12.id/internasional/9-elemen-jurnalistik-dari-bill-kovach-dan-tom-rosentiel/







Komentar