Tokoh Pers Indonesia
S.K TRIMURTI TOKOH INSPIRATIF PERS INDONESIA
Surastri Karma
Trimurti atau biasa dikenal S.K Trimurti yang lahir di Kabupaten Boyolali pada
tanggal 11 Mei 1912 dan wafat pada tanggal 20 Mei 2008 di Jakarta dengan usia
96 tahun. Pada tahun 1938 beliau menikah dengan Muhammad Ibnu Sayuti atau biasa
dikenal dengan Sayuti Melik, sang pengetik Deklarasi Kemerdekaan Indonesia. Bersama
suaminya beliau memiliki seorang anak yang bernama Heru Baskoro. Akan tetapi,
kehidupan rumah tangganya bersama Sayuti Melik tidak bertahan lama dan
memutuskan untuk berpisah dikarenakan adanya perbedaan ideologi. Keduanya
mempunyai kehidupan masing-masing, Sayuti Melik yang menjadi anggota DPR dari
Partai Golkar sedangkan Trimurti menjadi aktivis di bidang politik dan jurnalistik.
Beliau adalah sosok wartawan, penulis sekaligus guru Indonesia yang mengambil
andil dalam gerakan kemerdekaan Indonesia dalam melawan penjajah Belanda. Pada
tahun 1947 beliau menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja pertama di Indonesia
dibawah pimpinan Perdana Menteri Indonesia Amir Sjarifuddin. Jabatan tersebut
berlangsung sampai tahun 1948.
Beliau menempuh
pendidikan di Noormal School dan AMS di Surakarta. Kemudian melanjutkan
pendidikannya di Universitas Indonesia dengan jurusan Ekonomi dan mendapat gelar
Doktoranda, namun beliau tetap aktif di bidang jurnalistik. Kegiatan tersebut
sangat digeluti oleh beliau sejak beliau masih muda. Beliau memiliki latar
belakang kehidupan yang cukup menarik hingga menjadi salah satu sosok tokoh
inspiratif pers di Indonesia. Pada tahun 1930 beliau aktif dalam gerakan
Kemerdekaan Indonesia dan secara resmi bergabung dengan nasionalis Partindo (
pada saat itu dikenal sebagai Partai Indonesia) pada tahun 1933 setelah beliau
menyelesaikan sekolahnya di Tweede
Indlandsche School. Tweede Indlandsche School atau dikenal dengan Sekolah
Dasar/Sekolah Ongko Loro adalah sekolah dasar dengan masa pendidikan yang ditempuh
selama tiga tahun yang tersevar di seluruh penjuru desa. Setelah tamat dari
sekolah tersebut biasanya murid-murid akan meneruskan pada Schakel School selama 5 tahun dan dapat melanjutkanpendidikannya
yang sederajat dengan Hollandse Indische
School.
Dalam berkarir beliau
memulai menjadi guru sekolah dasar di Bandung, Banyumas, dan Surakarta pada
tahun 1930-an. Hal tersebut tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh
Trimurti karena pada tahun 1936 beliau ditangkap oleh pemerintah Belanda karena
menyebarkan informasi anti-kolonial dan dipenjara selama sembilan bulan di
penjara Bulu yang berada di Semarang. Setelah dbebaskan dari penjara beliau
mulai mengajar sebagai guru jurnalisme. Tidak butuh waktu yang lama beliau
sudah dikenal sebagai wartawan yang kritis karena anti-kolonialnya. Beliau
sering menggunakan nama samaran dalam beberapa tulisannya, hal ini bertujuan
untuk menghindari tertangkapnya lagi oleh pemerintah Belanda. Nama samaran yang
sering digunakan oleh Trimurti ialah “Trimurti atau Karma”.
Dalam kurun waktu
yang cukup lama Trimurti di dunia jurnalistik, ia bekerja di sejumlah surat
kabar Indonesia antara lain Pesat, Genderang, Bedung, dan Pikiran Rakyat. Ia
bersama suaminya menerbitkan Pesat yang akhirnya dilarang untuk beroperasi pada
era pemerintah Jepang. Paska kemerdekaan, ia ikut serta dalam mendirikan sebuah
organisasi perempuan Indonesia dengan nama Gerwis. Kemudian pada tahun 1950
Gerwis berganti nama menjadi Gerwani. Namun pada tahun 1965 beliau meninggalkan
organisasi tersebut guna melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi
Universitas Indonesia dengan jurusan Ekonomi dan menolak untuk menjadi Menteri
Sosial karena berkeinginan untuk menyelesaikan gelar sarjananya. Trimurti
merupakan salah satu anggota penandatanganan 50 petisi untuk memprotes Soeharto
sebagai lawan politiknya pada tahun 1980.
Beliau wafat pada
tanggal 20 Mei 2008 pada usia 96 tahun di rumah sakit Angkatan Darat Gatot
Soebroto (RSPAD) setelah dirawat selama dua minggu. S.K Trimurti meninggal
akibat vena yang rusak serta menderita tekanan darah tinggi. Beliau dimakamkan
di Taman Makam Pahlawan Kalibata karena dianggap sebagai pahlawan kemerdekaan
Indonesia serta dilakukan upacara pemakaman yang digelar di Istana Negara.
Sebelum wafat beliau pernah mendirikan organisasi perempuan di Indonesia yang
diberi nama Barisan Buruh Wanita (BBW) pada tahun 1945. Organisasi ini
merupakan penggabungan beberapa kelompok pekerja wanita dan sebagai pemimpin
S.K Trimurti selalu berurusan dengan Barisan Buruh Indonesia serta menjadi
sayap perempuan utuk Partai Buruh Indonesia.

Komentar
Posting Komentar